JOGJA.SIN.CO.ID – Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menilai Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Kota Yogyakarta lebih cocok menjadi agregator atau koperasi yang berperan mengumpulkan produk atau hasil usaha dari anggota maupun mitra untuk dikelola dan dipasarkan. Itu karena Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam. Pihaknya juga mengusulkan konsep gandeng-gendong agar KKMP bisa berjalan maksimal.
“Kota Yogya nggak punya sumber daya alam. Yang paling pas adalah agregator. Konkretnya, misalnya dari Koperasi Merah Putih di Bantul atau Sleman, kalau memang berasnya bagus, bisa dipasarkan juga ke koperasi lain (KKMP) di Kota Yogyakarta. Bisa sinergi dan dikolaborasikan. Yogya tinggal ngambilin (pasokan produk pangan) dari kabupaten,” kata Wawan saat menjadi narasumber dialog bisnis di Hotel Loman Park, Jumat (31/7/2026).
Dialog bisnis yang diadakan oleh Kamar Dagang Indonesia (KADIN) DIY itu mengusung tema Menyongsong Era Baru Koperasi: Menguatkan Rantai Pasok dan Ekonomi Kerakyatan. Kegiatan itu juga dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang membuka acara dan memberikan sambutan.
Wawan menyebut dari 45 kelurahan di Kota Yogyakarta baru sekitar 10 KKMP yang aktif berjalan karena pengurusnya proaktif dan bagus. Koperasi juga bisa berjalan apabila cara pandang pengurus sudah sama. Pihaknya mengusulkan konsep gandeng gendong agar KKMP itu bisa berjalan maksimal di semua wilayah. KADIN juga diharapkan siap menjadi mitra untuk kerja sama atau mengasuh KKMP.
“Mungkin solusi konsepnya adalah gandeng gendong atau penitip plasma. Misalnya KADIN Kota, bisa mengampu bikin koperasi bersama dengan KKMP yang ada di kota. Mungkin KADIN DIY ini bikin suatu koperasi bersama, terus kita bisa kerja sama dengan koperasi-koperasi yang ada,” tambah Wawan yang juga Ketua Dewan Pertimbangan KADIN DIY.
Wawan menilai pasar KKMP sudah di depan mata di kelurahan itu sendiri. Misalnya sembako. Oleh sebab itu tinggal menyesuaikan suplayer agar harganya lebih murah. Dicontohkan mengambil sembako dari Bulog tapi harus ada privilege khusus bagi KKMP dibanding lainnya agar lebih masuk.
Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X transformasi koperasi harus mengoreksi posisi rakyat atau masyarakat dari pelaku produksi menjadi pemilik nilai, dari penerima harga menjadi penentu pasar. Untuk itu ada empat daya yang perlu dibangun yakni lincah menghadapi perubahan, adaptif terhadap teknologi, selaras dalam kemitraan dan adil dalam distribusi risiko serta keuntungan.
“Pemerintah daerah, BUMD, dan institusi besar dapat berperan sebagai pembeli jangkar, mendorong produksi lokal tanpa menurunkan standar mutu. KADIN memiliki peran strategis memfasilitasi konektivitas pasar, antara koperasi dengan industri pengolahan, perhotelan, ritel modern, dan eksportir, membuka akses yang selama ini sulit dijangkau koperasi secara mandiri,” terang Sultan.
Sementara itu Staf Khusus Menteri Koperasi Bidang Ekonomi Produktif dan Kreatif Usaha Koperasi Prof Ambar Pertiwiningrum mengatakan pemerintah sedang menyusun peraturan presiden tentang tata kelola KDKMP agar mampu mengakomodasi potensi lokal dan memperkuat peran koperasi sebagai penyerap hasil produksi (off-taker) masyarakat. Pihaknya juga sedang menyiapkan tim verifikasi validasi untuk gerai KDKMP. Termasuk petunjuk pelaksanaan dan teknis kerja sama KDKMP dengan SPPG untuk program MBG.
“Nanti Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih itulah yang akan mengakomodir potensi-potensi lokal yang ada di masyarakat. Menjadi offtaker itu pasti karena itu sudah *ter-state* (tercantum). Tidak hanya sekedar mendistribusikan barang bersubsidi maupun bansos, tapi juga offtaker-nya dari misalnya petani, kemudian bahkan koperasi juga bisa mengelola tambang. Tapi tetap sesuai dengan regulasinya,” jelas Ambar.
Staf Khusus Menteri Koperasi Bidang Ekonomi Produktif dan Kreatif Usaha Koperasi Prof Ambar Pertiwiningrum saat dialog.
Pihaknya juga mengapresiasi KKMP di Yogyakarta yang unit usahanya sudah berjalan meskipun belum memiliki gerai maupun gudang. Misalnya 8 KKMP di Kota Yogyakarta sudah membuat usaha batik Segoro Amarto, KKMP Purwokinanti bermitra dengan hotel sekitar. Selain itu ada KKMP di Yogyakarta yang bermitra dengan SPPG untuk suplai sabun cuci piring. KKMP di Yogyakarta itu menurutnya bisa menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain.











